July 23, 2014

you and i
you and i
you and i
and you and i

Hey kak, aku ingat sekali pertemuan pertama kita. Saat aku kewalahan mengkondisikan kelas, aku mengadu pada kakak untuk memberikan peringatan kepada anak-anak. Padahal, aku sama sekali belum kenal kakak saat itu. Itulah pertemuan pertama kita
Lalu, kita semakin dekat, semakin luwes. Layaknya sesama teman, layaknya seorang kakak adik.
Kakak baik, kakak sopan, kakak asyik, dan aku lihat kakak taat beragama, aku suka sifat itu. Tapi, kalau kita sudah ngobrol, mulailah penyakit ego kita satu sama lain muncul, kakak juga cerewet, kakak gak mau kalah kalo debat, huuuh, aku bete sama sifat kakak yang satu itu.

Tapi, waktu aku tahu kakak menyimpan rasa untuk aku, jujur aku bingung.
Sempat memang tatapan mata kakak kala itu buat aku sedikit berpikir. Tapi, kalau kaka bilang aku nggak persah sadar kalau kakak memang menungguku, ya memang aku sama sekali nggak paham soal itu. Satu kata pun nggak pernah kakak lontarkan, karena aku tahu kakak nggak mau mengotori hati kakak. Tunggu sampai ku lulus ?? seperti yang kakak bilang "semoga Allah mengijabah doa kakak".

Lalu bagaimana dengan aku? apa aku harus menjaga hati ini untuk kakak? aku saja masih belum yakin. Kakak khawatir sama aku ? kakak nggak usah khawatir, i'm okey kaaaakk..
aku bisa atur hati ini sendiri, tanpa kakak. Kalaupun sanggahan aku semuanya benar, aku benar-benar kecewa dengan kakak. Aku sudah beberapa kali bilang bukan kak, jangan pernah bergurau pakai hati, karena hatiku tidak bisa bergurau. Aku harap juga semua itu bukan gurauan semata.

Kenapa begitu berat kak? apa karena modal kakak sampai-sampai kakak nggak boleh jujur soal hati.
Bukan kakak yang seharusnya minta maaf, melainkan aku. Entah siapa sebenarnya yang terus mengguraukan soal hati. Kakak ??? atau justru aku ??
Kak, aku bukan bergurau. Aku hanya menepis apa yang kakak katakan diawal. Kenapa? karena aku takut kak, aku belum sanggup mendengar pernyataan dari kakak. Kalau kakak sudah terlanjur bicara, lalu apa yang harus aku lakukan?? Bilang iya ?? Tidak ??
Aku nggak marah kak, sepertinya aku akan memilih diam tentang apapun yang akan kakak katakan.

Lalu sekarang kita bisa apa? kalaupun kakak maju pun aku belum bisa apa-apa, kalau aku mengiyakan pun kakak juga nggak akan terjerat di lingkaran itu bukaaan. Terimakasih jika kakak memang tulus menyimpan rasa untuk ku. Aku hanya berharap siapapun nanti orangnya aku menginginkan yang terbaik, aku ingin dia soleh. Sepertinya aku belum mampu untuk mematokkan kalau aku harus jaga hati ini untuk kakak, atau untuk siapapun, karena aku belajar dari masla lalu kak. Kita boleh merencanakan, tapi Allah yang berkehendak. Kita ngga bisa tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti.

So, terimakasih jika itu memang sepenuhnya benar dan maaf jika tak pernah ku tanggapi. Jika kita memang berjodoh, nantinya jalan kita pasti akan dimudahkan. Sekarang, lupakan soal hari ini. Kita jalani hari-hari kita masing-masing, Aku dengan duniaku, kakak dengan dunia kakak. Sampai ketemu bila Allah mempertemukan kita lagi :)

No comments: