May 10, 2013

jika aku diminta untuk memilih
sampai saat ini aku akan menjawab
ayah atau ibu "ayah"
ibu atau adik "adik"
mengapa??
entahlah :) aku pun tak berharap demikian

May 6, 2013


Aku bersyukur memiliki mu
Kamu, bisa menjadikan diriku yang sebenarnya
walau terkadang aku tak menyadarinya
tapi, kamu membuat diriku menjadi semakin utuh
meski sebelumnya aku ragu akan dirimu
akan ketulusanmu, akan kebersamaan kita
biarlah menjadi untaian untuk diriku sendiri
hingga akhirnya aku sadari
kamu menjadikan ku seperti yang aku yakinkan akan dirimu
banyak orang menyayangimu
terkadang membuat ku iri akan dirimu
air mata ku cukup hanya untuk keraguan terdahulu
namun sekarang, tak perlu ada lagi air mata itu
karena aku bahagia
bahagia akan kisah yang pernah kita alami bersama
pintaku
meski banyak hati diluar sana
tetap berikan aku tempat sebagai kekuatan untuk dirimu
yang tak pernah pudar oleh waktu

nsf


May 4, 2013

Logo Therapy


Nama   : Nurulia Septyarini Fazria
Npm    : 18510910
Kelas   : 3PA01
Matakuliah : Psikoterapi

Logo therapy

            Adalah terapi yang dilakukan untuk membantu individu mengemban tanggung jawab personal. Tema utamanya ialah pencarian makna (logos) dalam hidup. Kata logo beasal dari kata logos dalam bahasa yunani yang berarti makna.

Tokohnya:
Viktor. E Frankl, mendasarkan keyakinan pada observasinya tentang individu di kamp konsentrasi di Jerman pada perang dunia II. Keingintahuannya tentang mengapa beberapa individu bertahan hidup sedangkan yang lainnya tidak, mengarahkannya pada kesimpulan bahwa individu yang bertahan mampu menemukan makna hidup, bahkan dalam kondisi yang sangat buruk. Oleh karena itu, pencarian makna (logos) merupakan tema utama dalam logo terapi. Frank menekankan bahwa makna hidup yang sebenarnya harus ditemukan dalam realitas, bukan hanya didalam batin atau jiwa manusia. Mengenai hal itu Frank menggunakan istilah the self transcendence of human existence (transendensi dari dalam keberadaan manusia).

Makna hidup
Logo terapi mengajarkan bahwa ada tiga jalan yang dapat ditempuh seseorang untuk menemukan makna hidup. Pertama melalui karya atau tindakan. Kedua, mengenai pengalaman atau mengenal seseorang, dalam cinta. Ketiga, yang terpenting dalam mengubah diri sendiri mengubah tragedy menjadi kemenangan.

Hakekat dari eksistensi manusia terdiri dari 3 faktor, yaitu:
1.      Spiritualitas.
Spiritualitas adalah suatu konsep yang sulit dirumuskan, tidak dapat direduksikan, tidak dapat diterangkan dengan istilah – istilah material, meskipun dapat dipengaruhi oleh dunia material, namun tidak dihasilkan atau disebabkan oleh dunia material itu. Merupakan suatu konsep yang sulit dirumuskan namun tidak dapat direduksikan dan tidak dapat diterangkan dengan bentuk-bentuk yang bersifat material, kendatipun spiritual dapat dipengaruhi oleh dimensi kebendaan. Namun tetap saja spiritualitas tidak dapat disebabkan ataupun dihasilkan oleh hal-hal yang bersifat bendawi tersebut. Istilah spiritual ini dapat disinonimkan dengan istilah jiwa. Manusia tidak dapat didikte oleh faktor-faktor non-spiritual seperti instink, kondisi spesifik, atau lingkungan.

2.      Kebebasan.
Adanya suatu keadaan dimana manusia tidak didikte oleh faktor – faktor non spiritual, insting, warisan kita yang khusus atau kondisi lingkungan. Kebebasan tidak dibatasi oleh hal-hal yang bersifat non spiritual, oleh insting-insting biologis, apalagi oleh kondisi-kondisi lingkungan. Manusia dianugerahi kebebasan oleh penciptanya, dan dengan kebebasan tersebut ia diharuskan untuk memilih bagaimana hidup dan bertingkah laku yang sehat secara psikologis. Individu yang tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan kebebasan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, adalah individu yang mengalami hambatan psikologis atau neurotis. Individu yang neurotik akan menghambat pertumbuhan sekaligus pemenuhan potensi- potensi yang mereka miliki, sehingga akan mengganggu perkembangan sebagai individu secara penuh.

3.      Tanggung jawab.
Tidak cukup merasa bebas untuk memilih namun manusia juga harus menerima tanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Logotherapy mengingatkan manusia terhadap tanggung jawab dengan kalimat berikut, “Hiduplah seolah – olah anda hidup untuk kedua kalinya, dan bertindak salah untuk pertama kalinya kira – kira demikian anda bertindak sekarang.”Individu yang sehat secara psikologis menyadari sepenuhnya akan beban dan tanggung jawab yang harus mereka pikul dalam setiap fase kehidupannya, sekaligus menggunakan waktu yang mereka miliki dengan bijaksana agar hidup dapat berkembang ke arah yang lebih baik.Kehidupan yang penuh arti sangat ditentukan oleh kualitasnya, bukan berapa lama atau berapa panjang usia hidup. Keberadaan manusia akan menjadi sehat dan efektif jika faktor-faktor tersebut di atas dapat terealisasikan dengan baik dan benar dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh individu.Untuk mencapai dan menggunakan spiritualitas, kebebasan dan tanggung jawab semuanya tergantung pilihan yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Tanpa ketiga – tiganya tidak mungkin menemukan arti dan maksud dalam kehidupan. Dalam sistem Frankl, ada satu dorongan yang fundamental yakni kemauan akan arti yang kuat hingga mampu mengalahkan semua dorongan lain pada manusia. Tanpa arti untuk kehidupan, tidak ada alasan untuk meneruskan kehidupan. Arti kehidupan sangat istimewa dan unik bagi setiap individu sehingga arti kehidupan menjadi berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain bahkan dari momen yang satu ke momen berikutnya. Karena adanya perbedaan tersebut maka setiap orang harus menemukan caranya sendiri untuk memberikan respon.

Tujuan:
Menurut Frankl, terdapat dua tujuan yang berorientasi pada diri adalah kesenangan dan aktualisasi diri:
a         Frankl menyatakan semakin banyak kita dengan sengaja berjuang untuk kesenangan maka mungkin semakin kurang kita mendapatkannya.
b        Satu-satunya cara untuk mengaktualisasikian-diri ialah melalui pemenuhan arti di luar diri. Frankl tidak menyajikan suatu daftar dari sifat-sifat kepribadian yang sehat.

Daftar pustaka:
Williams and wilkins. (2001). Buku ajar keperawatan jiwa. Diterjemahkan oleh: Komalasari dan Hanny. Jakarta: Buku kedokteran EGC
Widyarini, N. (2009). Psikologi popular: kunci pengembangan diri. Jakarta: PT Elex media komputindo
Corey, Gerald. (1995). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4. Diterjemahkan oleh: Drs. Mulyarto. Semarang: IKIP Semarang Press