March 3, 2013

Study Banding Salam Master


Nurulia Septyarini Fazria
Tutor SMP Master


Study Banding Salam Master

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 19 Februari 2013 para tutor Paud, SD dan SMP beserta tim Yayasan Bina Insan Mandiri melakukan perjalanan ke Kota Yogyakarta dalam rangka study banding. Saya merupakan salah satu totor yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Acara study banding ini diadakan oleh lembaga yang bernama World Education, salah satu lembaga yang peduli terhadap pendidikan Indonesia.  Setelah melaksanakan pelatihan tutor sebelumnya, guna pembekalan materi dan diskusi bersama, study banding dilakukan tepat pada tanggal 19-21 Februari 2013 di Salam (Sanggar Anak Alam) Yogyakarta milik Ibu Wahya beserta suaminya. Perjalanan dimulai pada pagi hari kira-kira sekitar pukul 09.00 WIB saya beserta rombongan berangkat dari yabim (Yayasan Bina Insan Mandiri) tiba di Yogyakarta pukul 23.00 WIB. Saya dan rombongan disambut hangat oleh keluarga Salam meski tiba ditengah malam.
Sebelumnya saya akan ceritakan sekilas tentang Yayasan Bina Insan Mandiri (Yabim) yang lebih dikenal dengan sebutan “Master” dan  Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta. Master merupakan sekolah gratis yang diperuntukan untuk masyarakat yang kurang mampu, yatim/piatu, kaum dhuafa, dan anak-anak yang tidak diterima dimasyarakat. Di Master siapa yang ingin sekolah tidak ada batasan umur. Layaknya sekolah formal master memberikan pendidikan mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Selain itu master juga memberikan pembekalan berupa ketrampilan sablon, musik dan masih banyak lagi. Pendidikan di Master tidak dipungut biaya satu rupiah pun, meskipun demikian anak-anak mendapatkan pendidikan layaknya sekolah formal, mengikuti ujian paket atau terbuka, serta mendapatkan ijazah setara paket A,B atau C.  Sedangkan Salam Yogya (Sanggar Aanak Alam) merupakan sekolah alam tingkat SD dan SMP, namun saat ini tingkat SMP merupakan angkatan pertama ditahun ini. Sekolah yang notabennya unik dan tidak memberikan rapor berupa angka melainkan berbentuk verbal atau kata-kata. Anak-anak tidak terlalu dibekali secara teori melainkan diberikan gambaran sekilas setelah itu menerapkan dalam bentuk praktek. Fasilitator hanya mengarahkan kegiatan belajar mengajar saja. Terdapat kesamaan dari Master dan Salam, salah satunya sebagian besar anak yang menimba ilmu di sekolah tersebut mereka bermasalah disekolah sebelumnya atau sekolah formal. Pernyataan tersebut saya dengar dari hasil diskusi dengan pemilik Salam Yogya dan pernyataan dari pemilik Master yaitu Pak Rohim. Bermasalah dalam artian, misalnya ada anak yang tidak cocok dengan kebijakan-kebijakan disekolah formal, merasa kurikulum yang dipakai pemerintah tidak sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas, seringkali dianggap nakal oleh guru disekolah sebelumnya karena tingkah laku dari anak tersebut dan lainnya.
Banyak hal yang saya dapat dari study banding di Yogyakarta saat itu, mulai dari yang paling sederhana yaitu jika sebelumnya saya belum begitu banyak mengenal tutor-tutor dari Paud, SD, SMP, dan tim dari Master, namun karena study banding kemarin saya mengenal tutor-tutor yang sebelumnya saya tidak mengenal bahkan kami menjadi akrab, kami bercanda dan bersenda gurau, saling tukar pikiran. Maka dari itulah ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Saya mendapatkan kebersamaan dan kehangatan yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan selama satu tahun bergabung dengan master. Dari yang belum akrab menjadi akrab, yang sudah akrab menjadi semakin akrab, saya sangat bersyukur dengan moment tersebut.  
Selanjutnya saya mendapatkan nilai-nilai kehidupan dan pelajaran untuk diri saya sendiri. Banyak hal yang saya kutip sebagai motivasi dari diskusi-diskusi yang kami lakukan, khusunya dari pernyataan orang tua murid Salam Yogya, yaitu “Tujuan hidup saya memang membesarkan anak, jadi dengan segala cara saya akan selalu mendampingi anak saya” ungkap dari salah satu orang tua murid Salam Yogya. Senang melihat para orang tua murid mendukung anak-anaknya untuk terus berkarya meskipun nantinya mereka tidak mendapatkan ijazah seperti layaknya di sekolah formal. Karena menurut mereka, anak-anak mereka tidak untuk mencari kerja melainkan bagaimana caranya mereka membuat sebuah lapangan pekerjaan. Para orang tua murid yakin dengan keputusan yang mereka ambil dan itu tidak ada unsur pemaksaan kepada anak-anaknya sama sekali. Sebuah keputusan hebat yang mereka ambil ketika dizaman sekarang ini banyak orang yang terpingkal-pingkal mencari pekerjaan tanpa adanya ijazah yang kurang dalam persyaratan, bahkan orang yang memiliki ijazah dengan kriteria amat baik pun terkadang masih sulit mencari pekerjaan. Itulah nilai kehidupan yang saya dapat, intinya para orang tua yakin dan optimis kelak anak-anak mereka menjadi anak yang bisa dibanggakan dimasyarakat. 
            Di Salam Yogya saya bertemu dengan ketujuh anak hebat dan cerdas. Mereka adalah Lang-lang, Rasyik, Titi, Imung, Raka, Aska dan Vanya yang duduk dikelas IV SD. Mereka dibimbing oleh dua orang fasilitator yaitu Mba Kus dan Mba Ika. Saya bertemu dengan ketujuh anak itu ketika saya sedang observasi ke kelas bersama tim dari master. Ketika itu mereka tengah memulai kegiatan belajar mengajar, saya dan tim observasi tentunya disambut hangat dan baik oleh fasilitator dan anak-anak tersebut, membuat suasana menjadi lebih nyaman seperti sudah lama kenal. Kesan pertama saya melihat Titi dkk, mereka adalah anak yang aktif, sopan, ramah dan atraktif. Saya sentak dibuat terkejut oleh ketujuh anak tersebut, ketika mereka dan kami selesai memperkenalkan diri, saat itu dibuka sesi tanya jawab oleh fasilitator meraka sangat antusias. Mereka anak yang aktif, satu persatu bertanya tentang banyak hal kepada saya dan tim, mulai dari alamat rumah, hobi kami, cita-cita, sampai alasan mengapa master memilih sekolah mereka untuk dijadikan study banding, karena menurut salah satu dari ketujuh anak tersebut banyak sekolah didaerah tempat kami mengajar, kenapa sampai pula di Kota Yogyakarta. Pertanyaan yang bagus bukan untuk anak seusia mereka. Itulah, menurut saya mereka anak-anak yang cerdas dan bisa bersaing dengan anak-anak di sekolah formal, kelak mereka dewasa, mereka mampu bersaing pula dimasyarakat. Saya mendapatkan keunikan tersendiri ketika didalam kelas tersebut, yaitu masing-masing anak membuat kesepakatan kelas, misalnya siapa yang membuat gaduh akan diberi hukuman, kesepakatan mengambil makan siang secara bergantian sesuai jadwal. Di kelas yang saya observasi ada tujuh orang murid dengan dua fasilitator, mereka benar-benar diarahkan dengan fokus dan fasilitator bisa berinteraksi lebih dekat dengan murid-muridnya. Berbeda dengan master yang notabennya satu kelas terdapat 40 sampai 50 anak, bahkan satu ketika saya pernah mengajar dikelas tiga SMP dengan jumlah warga belajar sebanyak 70orang dengan satu orang tutor saja, sangat berbeda bukan. Maka dari itu terkadang kegiatan belajar mengajar di Master kurang efektif.
            Saat saya tengah duduk sendiri memperhatikan kegiatan belajar mengajar di kelas IV, salah seorang anak menghampiri saya, ia adalah Titi. Titi mengajak saya berbincang-bincang, ia bercerita, dan saya pun tanya banyak hal kepadanya, saat itu saya bertanya “Titi seneng ngga sekolah disini?” dengan yakin dan cepat ia menjawab “Seneng banget ka” ia pun akhirnya bercerita kembali mengapa menimba ilmu di Salam Yogyakarta. Ketika waktu istirahat tiba Titi, Imung dan Lang-lang mengajak saya, Kak Ade dan Kak Wulan berjalan-jalan mengitari Salam. Sontak anak-anak yang lainnya pun ikut. Rupanya saya, Kak Ade dan Kak Wulan diajak mengitari sawah master. Awalnya saya ragu, karena sawah itu milik Salam dan para petani sedang sibuk bekerja, tetapi mereka meyakinkan saya “Ngga papa kak, aku sering kok main-main di sawah” karena itu saya pun tak ragu mengitari sawah. Belum sampai ketengah Kak Wulan sudah terlelah dan akhirnya ia kembali ke kelas. Namun tidak bagi saya, Kak Ade dan anak-anak ceria itu. Kami tertawa riang dan berfoto-foto tidak mau melewatkan moment indah tersebut. Kemudian dilanjutkan bermain permainan tradisional dibawah kelas mereka. Saya bersyukur bisa bertemu dengan mereka dan tidak akan melupakan moment-moment indah tersebut. Terima kasih Titi, Vanya, Imung, Lang-lang, Aska, Rasyik dan Raka.
            Berhubung waktu kami bersilaturahmi di Salam Yogya sangat terbatas, tepat dipagi hari kamis pun kami kembali menempuh perjalanan pulang ke Depok. Agak berat meninggalkan sahabat dan adik-adik kecil saya, namun saya harus kembali. Insya allah jika Allah menghendaki kami akan bertemu kembali dilain waktu. Sedih memang saat saya berada di Kota Yogyakarta tidak jalan-jalan ke tempat wisata yang ada disana, hanya satu yaitu Malioboro. Itupun mencuri-curi waktu di waktu senggang sebelum diskusi kembali dengan keluarga Salam. Tetap saja menurut saya bagi kaum wanita tidak belanja di Malioboro itu tidak afdol. Sekitar pukul 09.00 WIB bus yang kami tumpangi pun akhirnya melaju, saya beserta tim master kembali melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Meski ada masalah sedikit saat diperjalanan pulang, semoga itu membuat tutor-tutor Master semakin solid. Sekitar pukul 22.30 WIB pun kami sampai di Depok. Saya agak tergelitik saat itu, saya jadi teringat ketika saya sewaktu masih sekolah selepas pulang dari Yogya pula untuk study tour, banyak orang tua yang menjemput ketika itu. Sama halnya ketika saya dan rombongan sampai di Depok selepas study banding kemarin, saya dijemput oleh ayah saya, begitu juga dengan beberapa tutor yang lain. Saya merasa seperti anak sekolah kembali. Itulah cerita saya tentang study banding di Salam (Sanggar Anak Alam) Yogyakarta, terima kasih world education yang telah mendampingi selama kegiatan berlangsung. Banyak hal yang saya dapat dari kegiatan tersebut, mulai dari kebersamaan bersama tutor-tutor master yang sebelumnya belum saya kenali, pengalaman, nilai-nilai kehidupan, pemikiran-pemikiran baru dan masih banyak lagi yang tentunya bermanfaat untuk diri saya sendiri, begitu juga untuk Master. Kurang lebihnya saya ucapkan terima kasih.      

No comments: