January 27, 2012

satu hal yang berharga

“jika kita ingin melihat sesuatu ,
lihatlah kebawah  jangan lihat keatas,
sebab jika melihat keatas,
kamu tidak akan pernah bisa mengenal apa itu bersyukur”

begitulah pesan yang selalu saya ingat dari seseorang yang melahirkan saya
kiranya saya baru saja mendapat suatu hal bahkan pengalaman yang berharga
jadi, kemarin pagi yang jatuh ditanggal 26 January 2012 saya berkunjung ke sebuah rumah singgah para anak jalanan di bilangan kota Depok
berawal dari niat awal saya untuk bertemu dengan seorang kakak yang sudah lama bernaung disana
dan ketika saya sampai ditempat
si kakak tersebut tidak nampak ditempat ia biasa singgah jika sedang tidak mengajar
akhirnya sapa pun bertanya kepada seorang kakak pria di ruang guru tersebut
petunjuk pun saya dapat
akhirnya saya menghampiri tempat yang dimaksud itu
belum cukup pencarian saya, rupanya sikakak yang bernama Anti itu tidak ada
dari kejauhan senyuman manis membuat kedua mata saya bergidik
lekas saya membalas senyuman itu lalu menghampiri tiga orang anak laki-laki yang sedang tertawa-tawa kecil
rupanya mereka terkejut dengan kedatangan saya


sambil tertawa mereka bilang “duh kageeeet”
saya menjadi tersipu malu
“lihat ka Anti nggaaa?”
“ooooh ka Anti, itu ka di gedung atas yang pintunya kebuka”
“ooh disitu, makasi yaaaaa”
“eh ini lagi pada ngapaiiin ?” tanya saya
“ini lagi ngerjain tugas ka”
“oke, lanjutin. Makasih banyak yaaaa”
daaaan saat itu juga pun saya meninggalkan ketiga anak itu
saya lega kedatangan saya disambut baik oleh mereka
terbukti waktu kami sedang berbincang tadi, mereka antusias kepada saya
dan saya pun nyaman bersama mereka meski baru pertama bertemu dan tidak dengan waktu yang lama

langkah demi langkah saya menaiki anak tangga
dan akhirnya saya menemukan juga sesosok wanita yang begitu istimewa
karena biarpun ia mengalami kekurangan dari segi tubuh yang bisa dikatakan tidak normal
namun ia mampu mengemban amanat berhadapan dengan banyak orang
dan ia menjadi salah satu leader di yayasan
“Assalamualaikuuuum”
sepertinya suara saya tidak terdengar olehnya, beberapa saat saya menolehkan kepala
ketika itu ka Anti mengetahui kedatangan ku
sebuah isyarat ia berikan dengan menaikan tangan kanan yang berartikan saya harus menunggu sejenak
“iya kaa, lanjutin aja gapapa”
karena ka Anti sedang mengajarkan adik-adik membaca iqro, lantas aku tetap menunggu di depan kelas

dengan sabar saya menunggu, tiba-tiba terdengar seru panggilan
“kakaaaaaaaaaaaa”
suara yang hangat, kedua  kalinya aku disambut hangat, saya senaaang sekali seperti sudah menjadi bagian dari mereka
Dengan cepat aku membalas dengan senyuman hangat pula
 Entah mengapa aku berfikir dia anak baik
“heeeeeeeeeeeeyy” jawabku
“kakak nungguin ka Anti yaa?”
“iyaaaa”

Namanya Maulana , biasa dipanggil Maul
berumur  11tahun
merupakan salah satu dari sekian banyak anak yang mengalami kekerasan fisik dari orang terdekatnya
menyebabkan ia menjadi sedikit keterbelakangan terbukti dari cara berbicara dia yang tidak pada umumnya
artinya maaf ‘tidak normal’
cara berbicaranya masih seperti anak yang berusia jauh dibawahnya
apa yang dikatakannya sulit untuk dimengerti,  sungguh saat itu saya cukup terkejut
betapa pilunya ia

suasana sempat hening saat itu antara saya dengan maul
namun tak lama kemudian ia mulai mengajak saya berbincang kembali
“kakak namanya siapa?” (memakai gaya bicara Maul)
saya sempat bingung ia berkata apa,saya memutar otak
“apa?” utar saya
“kakak namanya siapaaaaaa?”
yang saya dengar tadi ‘aaaeiyapaaaaaaa’
kemudian saya menger ti dan saya jawablah pertanyaan dia
“ooooohh, nama aku Nuruuuul, nama kamu siapa?”
agak malu-malu ia katakan “maaaul”
“apa? Paul?”
Namun ia memberikan ekspresi kecewa dan ia mencoba memperjelas perkataannya tadi
yes, akhirnya aku paham
“ooooooohh maul”
“iya, panjangnya maulana”
awalnya saya tidak mengerti apa-apa yang dikatakannya, namun akhirnya saya paham apa yang ia bisa katakan
Mungkin karena sudah banyak yang ia katakana dan tanyakan pada saya akhirnya saya mengerti,
saya pun bisa berkomunikasi dengan dia
“kaka rumahnya dimana?”
“aku rumahnya di Citayem, kalo maul?
“di Bogor, tapi aku ga betah dirumah dipukulin terus”
subhanallah, saat itu sangat terkejutnya saya, memang tampak pada paras wajahnya ada bekas-bekas luka dan banyak garis bekas benturan atau pukulan
Sungguh malangnya anak itu, betapa mirisnyaa saya mendengarnya
“ini ada bocor disebelah sini”
“terus maul tinggal dimana?”
“itu di parkiran”
“maul kelas berapa?”
Ia bingung sewaktu akau menanyakan kelas berapa, katanya ia tidak mau sekolah mau parkir saja, enak dapat uang
“nanti uangnya dikumpulin ,kalo udah banyak buat beli baso itu dideket situ” perjelas maul
pernyataan itu membuat saya takjub, subhanallah saya berfikir saya masih jauh lebih beruntung dibandingnya, betapa memilukan untuk beli bakso saja ia harus mengumpulkan uang dengan waktu yang tidak singkat.
lain halnya dengan kita bukan, dengan gampang menghabiskan uang tanpa bersusah payah mendapatkannya
“aku markir disitu” ia menunjukan sebuah tempat

Tidak sampai disitu saja, banyak hal yang saya bicarakan dengan maul
ia cerita ibunya sudah wafat

“aku udah ga punya ibu ka”
tentang kesehariannya, tentang adik-adik kita, teman-temannya dan masih banyak lagi
namun, diselingan perbincangan saya menyelipkan beberapa nasihat untuknya
untuk harus tetap belajar, bersemangat, dan meyakinkan  suatu saat ia akan menjadi orang sukses jika terus belajar dengan tekun
karena ditengah perbincangan kita , ia melontarkan
“aku ga tau kalo udah gede mau jadi apa”
aku tak menyangka jika masih terselip dibenak fikirannya kelak menjadi apa ia nantinya
dengan lantangnya saya melanjutkan kata-kata maul
“maul suatu saat nanti pasti bisa jadi dokter atau jadi polisi asal maul jangan pernah putus asa”
rupanya maul menemaniku sampai akhirnya aku dihampiri oleh seorang kakak
dan perbincangan kita pun akhirlnya selesai

sebuah nilai kehidupan saya dapatkan dihari ini, sebuah hal yang begitu berharga
untuk pertama kalinya aku berinteraksi dengan anak yang mempunyai keterbelakangan
Bagaimana ya, rasanya itu bisa menenangkan hati
merupakan pengalaman yang memuat aku sadar akan pentingnya rasa kasih sayang
kalian tahu, masih banyak orang diluar sana yang jauh lebih sulit jalan kehidupannya
contohnya saja seperti maul ini, yang ia tidak mau kembali lagi kerumahnya karena terus dipukuli
betapa jauh lebih beruntungnya kita bukaaan ??
dan satu hal yang tidak boleh terlupakan
‘BERSYUKUR’ dengan bersyukur hati menjadi damai,tenang  dalam menjalani sisa umur kita
saya bersyukur memiliki kedua orang tua yang ikhlas menyayangi saya dari kecil hingga sekarang ini
keluarga  yang memberi  kehangatan  bukan kekerasan fisik
terima kasih untuk mama, papa yang sudah merawatku tanpa sedikitpun kalian melukaiku
sungguh saya sangat bersyukur  tidak mengalami hal yang saya ceritakan diatas
meski keluarga saya belum bisa dikatakan sempurna, tapi pintaku jauhkan perbuatan itu sampai kapanpun

untuk engkau adik Maulana yang baik
tetap semangat, jalan mu masih panjang
jangan minder dengan keadaan yang kamu miliki saat ini
masih banyak orang yang menyayangimu seperti halnya kakak-kakak dirumah singgah itu
selalu berdoa kepada Allah swt
belajar dan terus belajar dan suatu saat kamu pasti bisa bangkit dari keterpurukan itu
saya yakin itu, amin


terinspirasi dari kisah nyata yang saya alami sendiri

No comments: