April 21, 2013

Rational Emotive Therapy


Nama   : Nurulia Septyarini Fazria
Npm    : 18510910
Kelas   : 3PA01
Matakuliah : Psikoterapi

Rational Emotive Therapy


Tokoh Rational Emotive Therapy
            Albert Ellis lahir pada tanggal 27 September 1913 di Pittsburgh, Pennsylvania. Terapi rasional emotif pertama kali diperkenalkan pada tahun 1955. Ellis sendiri mengatakan bahwa dialah yang mempelopori seks terapi.Ia juga seorang psikoanalis yang merasakan bahwa pendekatan psikoanalisis tidak efisien.

Terapi rasional emotif (RET)
            Ellis mengatakan bahwa terapi rasional emotif mendasarkan pada konsep bahwa berpikir dan berperasaan saling berkaitan, namun dalam pendekatannya lebih menitikberatkan pada pikiran daripada ekspresi emosi seseorang.

Pandangan terhadap konsep manusia dari sudut pendekatan terapi rasional emotif dan perkembangan kearah timbulnya perasaan tidak bahagia karena gangguan emosi yang dialami Patterson (dalam Gunarsa,2007):
1.         Manusia adalah pribadi unik rasional dan tidak rasional
2.         Hambatan emosi atau psikologis akibat dari cara berpikir yang tidak rasional.
3.         Pikiran tidak rasional berakar pada hal-hal yang tidak logis dipelajari sejak awal, sesuatu yang terjadi secara biologis diperoleh dari orang tua dan lingkungan budayanya.
4.         Manusia berpikir dengan memperkenalkan simbol dan bahasa.
5.         Berlanjutnya hambatan emosi adalah akibat dari verbalisasi diri.
6.         Manusia punya sumber yang luas dan bebas untuk mengaktualisasikan kemampuannya dan dapat mengubah tujuan pribadi maupun sosialnya.

Sasaran Terapi rasional emotif (RET)
            Adalah untu membantu orang hidup ebih lama, mengurangu gangguan emosional dan perilaku penaklukan diri dan mengaktualisasikan dirinya sehingga mereka hidup dalam eksistensi yang lebih terpenuhi, berbahagia.

Cara terapi
            Pasien harus membedakan antara keyakinan yang rasional dengan keyakinan yang tidak rasional. Terapis menentangnya apakah pasien akan meneruskan keinginannya untuk merusak dirinya, atau tidak. Terapis mendorongnya bahkan lebih kuat lagi yakni menginstruksikan agar melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan.
            Langkah kedua menunjukkan kepada pasien bahwa pasien mempertahankan perilakunya yang terganggu karena pasien meneruskan cara berpikirnya yang tidak logis
            Langkah ketiga bertujuan mengubah cara berpikir pasien dengan membuang cara berpikir yang tidak logis.
Langkah keempat ditujan terhadap aspek yang lebih jauh lagi, tidak hanya menghadapi proses berpikir yang tidak logis terhadap hal-hal yang khusus, melainkan terhadap hal-hal yang lebih luas yang menyangkut kehidupan sehari-hari.

Peran dan kegiatan terapis:
1.         Bawalah pasien sampai pada akar persoalannya yang menimbulkan pikiran tidak rasional dan yang    menimulkan gangguan pada perilaku.
2.         Doronglah pasien agar mengemukakan pikiran-pikirannya
3.         Tunjukkan pada pasien dasar pemikirannya yang tidak logis
4.         Pergunakan analisis logis untuk mengurangi keyakinan yang tidak rasional
5.         Kemukakan kepada pasien bagaimana keyakinan ini tidak jalan dan bagaimana hal tersebut akan menimbulkan gangguan emosi maupun perilaku dikemudian hari
6.         Pergunakan humor dan cara lain yang mungkin dirasakan aneh atau yang bukan seperlunya, untuk menghadapi cara berpikir pasien yang tidak rasional
7.         Jelaskan bagaimana pikiran ini dapat diganti dengan pikiran lain yang lebih rasional dan yang lebih memiliki dasar empiric yang kuat
8.         Ajarlah pasien bagaimana mempergunakan pendekatan ilmiah dan proses berikutnya, sehingga mereka dapat mengamati dan kemudian mengurangi cara berpikir yang tidak rasional dan logis yang dapat menimbulkan kesulitan dalam dirinya dikemudian hari.

Daftar Pustaka:
  • ·      Corey, Gerald. (1995). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4.  Diterjemahkan oleh: Drs. Mulyarto. Semarang: IKIP Semarang Press
  • ·         Gunarsa, S. (2007). Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
  • ·         Maulany, R. (1997). Psikiatri. Jakarta: Buku kedokteran EGC


No comments: