March 31, 2013

Person Center Therapy


Nama   : Nurulia Septyarini Fazria
Npm    : 18510910
Kelas   : 3PA01
Mata kuliah : Psikoterapi

Person Center Therapy

Pengertian Client Center Therapy
            Adalah terapi yang dikembangkan oleh Carl Rogers yang didasarkan pada asumsi bahwa klien merupakan ahli yang paling baik bagi dirinya sendiri dan merupakan orang yang mampu untuk memecahkan masalahnya sendiri. Tugas terapis adalah mempermudah proses pemecahan masalah mereka sendiri. Terapi juga tidak mengajukan pertanyaan menyelidik, membuat penafsiran, atau mengajukan serangkaian tindakan. Terapis lebih dikenal sebagai fasilitator.
            Klien harus memiliki beberapa persyaratan untuk mencapai pemahaman klien terhadap masalah yang dihadapi, diantaranya adalah empati, rapport, dan ikhlas. Empati adalah kemampuan memahami perasaan yang dapay mengungkapkan keadaan klien dan kemampuan mengkomunikasikan pemahaman ini kepada klien. Rapport adalah menerima klien dengan tulus sebagaimana adanya, termasuk pengakuan bahwa orang tersebut memiliki kemampuan untuk terlibat secara konstruktif dengan masalahnya. Ikhlas dalam arti sifat terbuka, jujur, dan tidak berpura-pura atau bertindak dibalik topeng profesinya. Selain itu terdapat pula jaminan bahwa masalah yang diungkap klien dijamin kerahasiaannya serta adanya kebebasan bagi klien untuk kembali lagi berkonsultasi atau tidak sama sekali jika klien sudah dapat memehami permasalahannya sendiri.
            Menurut Rogers, pertanyaan “Siapa saya?” menjadi penyebab kebanyakan seseorang datang ke terapis untuk psikoterapi. Kebanyakan dari mereka bertanya “Bagaimana saya dapat menemukan diri nyata saya?” ”Bagaimana saya dapat menjadi apa yang saya inginkan?” “Bagaimana saya memahami apa yang ada dibalik dinding saya dan menjadi diri sendiri?”

Tokoh Person Center Therapy
            Rogers adalah pelopor didalam penyelidikan dibidang konseling dan psikoterapi. Pandangan Rogers tentang sifat naluri manusia adalah fenomenologis, yaitu kita membentuk diri sendiri sesuai dengan persepsi kita tentang realitas. Teori Rogers bertumpu pada suatu asumsi bahwa klien bisa memahami faktor dalam hidup mereka yang menjadikan mereka tidak bahagia. Mereka juga memiliki kapasitas untuk mengarahkan dir mereka sendiri dan mengadakan perubahan pribadi yang konstruktif.

Tujuan Person Center Therapy
            Menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi pribadi yang dapat berfungsi penuh. Guna mencapai tujuan tersebut terapis perlu mengusahakan agar klien dapat menghilangkan topeng yang dikenakannya dan mengarahkannya menjadi dirinya sendiri.

Teknik dan Prosedur Terapi
            Dalam kerangka terpusat pada pribadi “tekniknya” adalah mendengarkan, menerima, menghormati, memahami dan berbagi. Pendekatan berpusat pada pribadi yang ada sekarang dipahami sebagai yang terutama untuk proses menolong klien bisa menemukan makna personal yang baru dan lebih memuaskan tentang dirinya sendiri dan dunia tempat ia tinggal.

Kelebihan
            Terapi terpusat pada pribadi didasarkan pada falsafah sifat naluri manusia yang menegaskan adanya usaha untuk beraktualisasi diri. Selanjutnya pandangan Rogers tentang sifat naluri manusia adalah fenomenologis, yaitu kita membentuk diri sendiri sesuai dengan persepsi kita tentang realitas. Kita dimotifikasi untuk mangaktualisasi diri kita sendiri dalam lingkup persepsi kita akan realitas.

Kekurangan
            Kerawanan dari pendekatan terpusat pada pribadi merupakan gejala dari para praktisi untuk bersikap sangat menunjang tanpa harus menantang. Karena kesalahpahaman mereka akan konsep dasar dari pendekatan itu, beberapa orang dari mereka telah membatasi lingkup response mereka terhadap refleksi dan mendengarkan secara empati.
            Salah satu keterbatasan dari pendekatan itu adalah cara beberapa orang praktisi menjadi “terpusat pada klien” dan kehilangan citra rasa kepribadian mereka sendiri serta keunikannya.

Daftar Pustaka :
·     Corey, Gerald. 1995. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4. Diterjemahkan oleh:   Drs. Mulyarto. Semarang: IKIP Semarang Press
·         Riyanti, B.P. Dwi dan Prabowo, Hendro. 1998. Psikologi Umum II. Jakarta: Universitas Gunadarma
·         Suryabrata, Sumardi. 1982. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada







March 24, 2013

Terapi Humanistik Eksistensial


Nama   : Nurulia Septyarini Fazria
Npm    : 18510910
Kelas   : 3PA01
Makul  : Psikoterapi


Terapi Humanistik Eksistensial

            Dasar dari terapi Humanistik adalah penekanan keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan perwujudan dirinya. Dalam terapi ini para ahli tidak mencoba menafsirkan perilaku penderita, tetapi bertujuan untuk memperlancar kajian pikiran dan perasaan seseorang dan membantunya memecahkan masalahnya sendiri.
            Sasaran dari banyak sistem terapi humanistik adalah membuat individu mampu menerima kebebasan yang menimbulkan kekaguman untuk bertindak serta tanggung jawab  yang harus dipikul atas tindakan itu. Terapi eksistensial berusaha agar klien bisa keluar dari belenggu yang kuat itu dan mau menantang kecenderungan mereka yang sempit dan bersifat memaksa, yang merupakan ganjalan dari kebebasan mereka.

Tujuan Terapi Humanistik Eksistensial
            Terapi eksistensial menolong klien untuk bisa menghadapi kecemasan memilih untuk bisa menghadapi kecemasan memilih untuk diri sendiri dan kemudian menerima realistis bahwa mereka itu lebih dari sekedar korban dari kekuatan menentukan diluar diri mereka sendiri. Tujuannya adalah agar klien mampu melakukan tindakan yang berdasarkan pada tujuan otentik bagi terciptanya eksistensi yang bermutu.
            Tujuan psikoterapi adalah bukan menyembuhkan klien dalam artian yang konvensional, melainkan untuk menolong mereka sadar akan apa yang mereka lakukan dan membebaskannya dari peranan sebagai korban. Tugas eksistensial terapi adalah mengajar klien mendengarkan apa yang telah mereka ketahui tentang diri mereka sendiri, meskipun mereka mungkin tidak memperhatikan apa yang telah mereka ketahui.

Fungsi dan Peranan Terapis
            Yang paling dipedulikan oleh terapis eksistensial adalah memahami dunia subjektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan buakan pada menolong klien agar bisa sembuh dari situasi masa lalu. Yang terutama dipedulikan oleh terapis eksistensial adalah laku klien untuk melepaskan diri dari tanggung jawab, klien diajak untuk menerima pertanggungjawaban pribadi.
            Tugas sentral dari terapis adalah langsung mengkonfrontasikan klien ini dengan cara hidup  mereka dalam keberadaan terapis ini dan menolong mereka untuk bisa menyadari bahwa mereka sendiri ikut berperan dalam penciptaan kondisi semacam itu. Bisa dimisalkan terapis mengambil cermin agar klien bisa bercermin agar klien bisa bercermin hingga klien berkonfrontasi dengan diri sendiri.

Cara Terapi
Aplikasi: Prosedur dan Teknik Terapi
            Inti dari terapi ini adalah penggunaan pribadi terapis. Adalahpada saat pertemuan tatap muka saya atau anda itulah, pada saat keseluruhan pribadi terapis bertatapan dengan seluruh pribadi klien, maka proses terapeutik ada dalam posisinya yang terbaik.
Ada tiga tahap dalam proses konseling eksistensial,
·         Tahap pertama
Selama tahap pendahuluan konselor membantu klien dalam hal mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak untuk mendefinisikan dan menanyakan tentang cara mereka memandang dan menjadikan eksistensi mereka bisa diterima. Mereka meneliti nilai mereka, keyakinan, serta asumsi untuk menentukasn kesahihannya. Konselor mengajak mereka bagaimana caranya untuk bercermin pada eksistensi mereka sendiri dan meneliti peranan mereka dalam hal penciptaan problem mereka dalam hidup.
·         Tahap kedua
Selama tahap tengah dari konseling eksistensial  klien didorong semangatntnya untuk lebih dalam lagi meneliti sumber dan otoritas dari sistem nilai mereka.
·         Tahap ketiga
Tahap akhir dari konseling eksistensial berfokus pada menolong klen untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri. Sasaran terapi adalah memungkinkan klien untuk bisa mencari cara pengaplikasian nilai hasil penelitian dan internalisasi dengan jalan yang konkrit.

Kelebihan Terapai Humanistik Eksistensial
            Menurut pandangan eksistensial, kita mampu untuk sadar akan diri sendiri, yaitu kapasitas yang membedakan diri kita dengan makhluk lain yang membuat kita untuk mengenang dan mengambil keputusan.

Kekurangan Terapi Humanistik Eksistensial
            Tiadanya pernyataan  yang sistematik mengenai prinsip dan praktek psikoterapi. Juga sering dikritik sebagai yang tidak memiliki metode yang tegas. Keterbatasan dasar yang lain bisa saya  (penulis) pantau dalam pendekatan eksistensial adalah bahwa banyak dari konsepnya yang abstrak dan susah untuk diterapkan pada praktek terapi humanistik.





March 17, 2013

Terapi Psikoanalisa


Nama   : Nurulia Septyarini Fazria
Npm    : 18510910
Kelas   : 3PA01
Makul  : Psikoterapi

Terapi Psikoanalisis

Sebelum kita membahas tentang terapi psikoanalisis, terlebih dahulu kita harus mengetahui psikoterapi itu sendiri. Psikoterapi adalah perawatan dan penyembuhan terhadap gangguan dan penyakit jiwa dengan cara yang leibh psikologis dari pada fisiologis maupun biologis.Teknik dalam psikoterapi memiliki ciri yang sama, yaitu adanya komunikasi antara klien (penderita) dengan terapis. Klien didorong untuk dapat mengungkapkan rasa takut, emosi dan pengalamannya yang tidak menyenangkan secara bebas tanpa ada rasa takut dan malu dicemooh oleh terapisnya. Seorang terapis juga harus memiliki simpati dan empati, serta mencoba membantu klien mengembangkan cara efektif untuk menangani masalahnya.

Pengertian Terapi Psikoanalisis
Adalah teknik atau metoda pengobatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggali permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta memunculkan dorongan-dorongan yang tidak disadarinya selama ini. Terapi psikoanalisis sebagian besar terdiri dari penggunaan metode mengeluarkan materi di alam tidak sadar yang bisa ditangani. Fokusnya terutama diletakkan pada pengalaman masa kanak-kanak, yang dibahas direkonstruksi, diinterpretasi dan dianalisis.

Tujuan Terapi Psikoanalisis
Tujuan dari terapi psikoanalisis adalah menyadarkan individu dari konflik yang tidak disadari serta mekanisme pertahanan (defense mechanism) yang digunakan untuk mengendalikan kecemasan. Terapi psikoanalisis juga untuk menjadikan mereka yang tidak sadar untuk memperkokoh ego sehingga perilaku lebih didasarkan pada hal yang nyata dan bukan pada rekayasa yang bersifat naluriah.Defense mechanism diantarannya proyeksi, represi, regresi, rasionalisasi, reaksi formasi, sublimasi, dan displacement.

Tokoh Terapi Psikoanalisis
Tokoh dari terapi psikoanalisis adalah Sigmund Freud. Freud menganggap bahwa kesadaran hanya merupakan sebagian kecil saja dari pada seluruh kehidupan psikis. Struktur kepribadian Freud ialah id, ego, super ego
  •  Id
Aspek ini adalah aspek biologis dan merupakan sistem yang original didalam kepribadian. Id berisi hal yang dibawa sejak lahir (unsure-unsur biologis), termasuk insting. Id juga menghindarkan diri dari ketidakenakan dan mengejar kesenangan, seperti makan, minum.
  •  Ego
Adalah aspek psikologis dari kepribadian dan timbul karena kebutuhan organism untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realitas). Orang yang lapar perlu makan untuk menghilangkan tegangan yang ada dalam dirinya. Ini berarti bahwa organisme harus dapat membedakan antara khayalan tentang makanan dan kenyataan tentang makanan.
  • Super Ego
Merupakan aspek sosiologi, nilai-nilai norma-norma  tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya. Fungsinya menentukan apakah sesuatu benar atau salah.

Fungsi dan Peranan Terapis
Salah satu fungsi sentral dari analisis adalah menolong si teranalisis untuk mendapatkan kebebasan untuk mencintai, bekerja dan bermain. 
Peran terapis yaitu:
·         Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan       personal dalam menangani kecemasan secara realistis
·         Membangun hububungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar & menafsirkan
·         Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien
·         Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan & pertentangan-pertentangan pada cerita klien

Cara Terapi Psikoanalisis
Terapi psikoanalisis bersifat intensif dan panjang lebar. Terapis dank lien umumnya bertemu selama 50 menit beberapakali dalam seminggu sampai beberapa tahun. Oleh karena itu agar dapat lebih efisien, maka pertemuan dapat dilakukan dengan pembatasan waktu dan penjadwalan waktu yang tidak terlalu sering.

Teknik Terapi Psikoanalisis
  • Asosiasi Bebas
Merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Terapis meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan sehari-hari, sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikiran. Dengan memepersilakan klien berbaring diatas balai-balai sementara terapis duduk dibelakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasinya mengalir dengan bebas. Asosiasi bebas juga merupakan metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu (katarsis).
  • Penafsiran (Interpretasi)
Merupakan prosedur dasar didalam menanalisis asosiasi bebas, mimpi-mimi, resistensi, dan transferensi. Caranya dengan tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan, dan mengajarkan klien makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam asosiasi bebas, mimpi-mimi, resistensi, dan transferensi itu sendiri.
  • Analisis Mimpi
Adalah prosedur yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemhaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur persaan yang direpress akan muncul kepermukaan. Melalui mimpi hasrat, kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan.
  • Resistensi
Adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Resistensi sebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan, meski sebenarnya menghambat kemampuannya untuk menghadapi hidup yang lebih memuaskan.
  • Transferensi
Adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya.

Pengalaman Klien dalam Terapi
  • Bersedia melibatkan diri kedalam proses terapi yang intensif dan berjangka panjang
  • Mengembangkan hubungan dengan analis atau terapis
  • Mengalami krisis treatment
  • Memperoleh pemahaman atas masa lampau klien yang tak disadari
  • Mengembangkan resistensi-resistensi untuk belajar lebih banyak tentang diri sendiri
  • Mengembangkan suatu hubungan transferensi yang tersingkap
  • Memperdalam terapi
  • Menangani resistensi-resistensi & masalah yang terungkap
  • Mengakhiri terapi

Hubungan Antara Terapis dan Klien
Dikonseptualisasikan dalam proses transferensi. Transferensi adalah pergeseran yang tidak disadari ke penganalisis oleh klien mengenai perasaan dan khayalan, baik yang positif atau negative, yang berupa penglihatan tempat (displacement) dari reaksi ke orang lain yang signifikan dalam masa lalu si kien.

Kelebihan Terapi Psikoanalisis
·  Memahami sifat menentang yang diwujudkan dalam bentuk pembatalan pertemuan, pengakhiran kegiatan terapi sebelum waktunya, dan penolakan untuk mawas diri.
·  Memahami bahwa kerja yang belum selesai dapat ditangani, sehingga klien bisa menciptakan babak akhir yang baru terhadap peristiwa yang secara emosional telah menyebabkan mereka tidak dapat berbuat banyak
·  Memahami nilai dan peranan transferensi
·  Memahami betapa penggunaan pertahanan ego secara berlebihan, baik dalam hubungan konseling maupun       dalam kehidupan sehari-hari, dapat membuat klien tidak bisa berfungsi secara efektif

Kekurangan Terapi Psikoanalisis
·  Aplikasi pada banyak praktek teknik analitik sangatlah terbatas. Terutama pada tenik seperti asosiasi   bebas yang dilakukan sambil berbaring, analisis mimpi, dan hubungan analisis transferensi sebagai teknik praktis.
·  Kliennya sebagian besar tidak mau menyediakan waktu lima tahun kegiatan perawatan intensif.

Daftar Pustaka :
  • Corey, Gerald. 1995. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4. Diterjemahkan oleh: Drs. Mulyarto. Semarang: IKIP Semarang Press
  • Riyanti, B.P. Dwi dan Prabowo, Hendro. 1998. Psikologi Umum II. Jakarta: Universitas Gunadarma
  • Suryabrata, Sumardi. 1982. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
  • Gunarsa, Singgih D. 1992. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia