May 4, 2013

Logo Therapy


Nama   : Nurulia Septyarini Fazria
Npm    : 18510910
Kelas   : 3PA01
Matakuliah : Psikoterapi

Logo therapy

            Adalah terapi yang dilakukan untuk membantu individu mengemban tanggung jawab personal. Tema utamanya ialah pencarian makna (logos) dalam hidup. Kata logo beasal dari kata logos dalam bahasa yunani yang berarti makna.

Tokohnya:
Viktor. E Frankl, mendasarkan keyakinan pada observasinya tentang individu di kamp konsentrasi di Jerman pada perang dunia II. Keingintahuannya tentang mengapa beberapa individu bertahan hidup sedangkan yang lainnya tidak, mengarahkannya pada kesimpulan bahwa individu yang bertahan mampu menemukan makna hidup, bahkan dalam kondisi yang sangat buruk. Oleh karena itu, pencarian makna (logos) merupakan tema utama dalam logo terapi. Frank menekankan bahwa makna hidup yang sebenarnya harus ditemukan dalam realitas, bukan hanya didalam batin atau jiwa manusia. Mengenai hal itu Frank menggunakan istilah the self transcendence of human existence (transendensi dari dalam keberadaan manusia).

Makna hidup
Logo terapi mengajarkan bahwa ada tiga jalan yang dapat ditempuh seseorang untuk menemukan makna hidup. Pertama melalui karya atau tindakan. Kedua, mengenai pengalaman atau mengenal seseorang, dalam cinta. Ketiga, yang terpenting dalam mengubah diri sendiri mengubah tragedy menjadi kemenangan.

Hakekat dari eksistensi manusia terdiri dari 3 faktor, yaitu:
1.      Spiritualitas.
Spiritualitas adalah suatu konsep yang sulit dirumuskan, tidak dapat direduksikan, tidak dapat diterangkan dengan istilah – istilah material, meskipun dapat dipengaruhi oleh dunia material, namun tidak dihasilkan atau disebabkan oleh dunia material itu. Merupakan suatu konsep yang sulit dirumuskan namun tidak dapat direduksikan dan tidak dapat diterangkan dengan bentuk-bentuk yang bersifat material, kendatipun spiritual dapat dipengaruhi oleh dimensi kebendaan. Namun tetap saja spiritualitas tidak dapat disebabkan ataupun dihasilkan oleh hal-hal yang bersifat bendawi tersebut. Istilah spiritual ini dapat disinonimkan dengan istilah jiwa. Manusia tidak dapat didikte oleh faktor-faktor non-spiritual seperti instink, kondisi spesifik, atau lingkungan.

2.      Kebebasan.
Adanya suatu keadaan dimana manusia tidak didikte oleh faktor – faktor non spiritual, insting, warisan kita yang khusus atau kondisi lingkungan. Kebebasan tidak dibatasi oleh hal-hal yang bersifat non spiritual, oleh insting-insting biologis, apalagi oleh kondisi-kondisi lingkungan. Manusia dianugerahi kebebasan oleh penciptanya, dan dengan kebebasan tersebut ia diharuskan untuk memilih bagaimana hidup dan bertingkah laku yang sehat secara psikologis. Individu yang tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan kebebasan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, adalah individu yang mengalami hambatan psikologis atau neurotis. Individu yang neurotik akan menghambat pertumbuhan sekaligus pemenuhan potensi- potensi yang mereka miliki, sehingga akan mengganggu perkembangan sebagai individu secara penuh.

3.      Tanggung jawab.
Tidak cukup merasa bebas untuk memilih namun manusia juga harus menerima tanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Logotherapy mengingatkan manusia terhadap tanggung jawab dengan kalimat berikut, “Hiduplah seolah – olah anda hidup untuk kedua kalinya, dan bertindak salah untuk pertama kalinya kira – kira demikian anda bertindak sekarang.”Individu yang sehat secara psikologis menyadari sepenuhnya akan beban dan tanggung jawab yang harus mereka pikul dalam setiap fase kehidupannya, sekaligus menggunakan waktu yang mereka miliki dengan bijaksana agar hidup dapat berkembang ke arah yang lebih baik.Kehidupan yang penuh arti sangat ditentukan oleh kualitasnya, bukan berapa lama atau berapa panjang usia hidup. Keberadaan manusia akan menjadi sehat dan efektif jika faktor-faktor tersebut di atas dapat terealisasikan dengan baik dan benar dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh individu.Untuk mencapai dan menggunakan spiritualitas, kebebasan dan tanggung jawab semuanya tergantung pilihan yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Tanpa ketiga – tiganya tidak mungkin menemukan arti dan maksud dalam kehidupan. Dalam sistem Frankl, ada satu dorongan yang fundamental yakni kemauan akan arti yang kuat hingga mampu mengalahkan semua dorongan lain pada manusia. Tanpa arti untuk kehidupan, tidak ada alasan untuk meneruskan kehidupan. Arti kehidupan sangat istimewa dan unik bagi setiap individu sehingga arti kehidupan menjadi berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain bahkan dari momen yang satu ke momen berikutnya. Karena adanya perbedaan tersebut maka setiap orang harus menemukan caranya sendiri untuk memberikan respon.

Tujuan:
Menurut Frankl, terdapat dua tujuan yang berorientasi pada diri adalah kesenangan dan aktualisasi diri:
a         Frankl menyatakan semakin banyak kita dengan sengaja berjuang untuk kesenangan maka mungkin semakin kurang kita mendapatkannya.
b        Satu-satunya cara untuk mengaktualisasikian-diri ialah melalui pemenuhan arti di luar diri. Frankl tidak menyajikan suatu daftar dari sifat-sifat kepribadian yang sehat.

Daftar pustaka:
Williams and wilkins. (2001). Buku ajar keperawatan jiwa. Diterjemahkan oleh: Komalasari dan Hanny. Jakarta: Buku kedokteran EGC
Widyarini, N. (2009). Psikologi popular: kunci pengembangan diri. Jakarta: PT Elex media komputindo
Corey, Gerald. (1995). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4. Diterjemahkan oleh: Drs. Mulyarto. Semarang: IKIP Semarang Press




April 28, 2013

dear gaemgyu

Dear gaemgyu:

this is a letter for you
from a girl who like you actualy
hey boy, i like you not because you're so handsome
not because you are so famous
but, i like you because your personality
your behavior make me laugh, laugh and laugh
Really really happy to see you thougt for a far
so thank you for make me laugh

don't change, because I love this state even though you didn't recognize me
i'm sure if we meet you didn't like that
be healthy,, i always thingking about you
you were always my mind
see ya

Behavior Therapy


Nama   : Nurulia Septyarini Fazria
Npm    : 18510910
Kelas   : 3PA01
Matakuliah : Psikoterapi

Behavior Therapy

            Behavior therapy didasarkan kepada teori-teori belajar. Bahwa perilaku maladaptive merupakan cara untuk menanggulangi stress yang sudah “terbiasa” pada diri seseorang. Behavior  therapy lebih memusatkan langsung pada perilaku itu sendiri.

Metode Behavior Therapy
            Metode dan teknik pendekatan terapi yang didasarkan kepada teori belajar adalah pengkondisian klasik dan pengkondisian operan. Pengkondisian klasik atau pengkondisian responden dari Pavlov, pada dasarnya melibatkan stimulus tak berkondisi (UCS) yang serta otomatis membangkitkan respon berkondisi (CR) , yang sama dengan respon tak berkondisi (UCR) apabila diasosiasikan dengan stimulus berkondisi (CS), sehingga lambat laun CS mengarahkan kemunculan CR
            Pengkondisian operan melibatkan pemberian reward kepada individu atas kemunculan tingkah laku yang diharapkan pada saat tingkah laku itu muncul. Dikenal dengan istilah “pengkondisian instrumental”, karena memperlihatkan bahwa tingkah laku instrumental dapat dimunculkan oleh organisme yang aktif sebelum reinforcement diberikan untuk tingkah laku tersebut.

Teknik terapi
            Beberapa teknik yang didasarkan kepada teori belajar antara lain:
1.         Desensitisasi sistematis
Desensitisasi sistematis adalah teknik yang digunakan untuk menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negative, serta memunculkan tingkah laku atau respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang dihilangkan tersebut.
            Dua unsur disensitisasi sistematis, yaitu:
            a.  Relaksasi
                 Relaksasi adalah  suatu prosedur pelatihan bagi individu untuk melemaskan otot-otot.
            b.  Hirarki kecemasan
                 Adalah sejumlah situasi atau stimulus yang membuat orang mengalami kecemasan
2.         Pelatihan asertif
Dengan pelatihan asertif seorang klien tidak hanya mengurangi kecemasannya akan tetapi sekaligus juga mengembangkan teknik penanggulangan yang efektif. Latihan asertif diberikan secara bertahap, dimulai dari lahitan permainan peran dengan terapis sampai dengan menghadapi situasi kehidupan yang sebenarnya.
3.         Modeling
Penggunaan teknik penikohan dalam terapi perilaku meliputi tokoh yang nyata, tokoh yang dilihat melalui film, atau tokoh dalam imajinasi. Menunjukkan terjadinya proses belajar melalui pengamatan dari orang lain melalui pengamatan dari orang lain dan perubahan yang terjadi karena melaui peniruan.
4.         Gestalt
                        Memperbaiki hubungan yang tidak baik antara manusia dan lingkungannya.
5.         Terapi Implosif
Pasien dengan ansietas yang disebabkan situasi, secara langsung dipajankan terhadap situasi tersebut untuk jangka waktu tertentu (flooding) atau dalam imajinasi
6.         Terapi aversi
Paien diberikan stimulus yang tidak menyenangkan missal suara keras pada saat perilaku yang tidak dikehendaki muncul.
7.         Positif reinforcement
           
Daftar pustaka:
Riyanti, B.P. Dwi dan Prabowo, Hendro. (1998). Psikologi Umum II. Jakarta: Universitas Gunadarma
Sarwono, S. (1999). Psikologi sosial. Jakarta: PT Balai pustaka
Gunarsa, Singgih D. 1992. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
Maulany, R. (1997). Psikiatri. Jakarta: Buku kedokteran EGC